"Rira, berangkat sekarang juga," Mira mengangkat tangannya dengan tegas lalu melambaikan isyarat agar Rira segera mendekat tanpa ragu.

"Baik, Nyonya," jawab Rira dengan suara lirih dan langkah cepat, kepala tertunduk penuh hormat namun matanya berkilat penuh tekad.

Tanpa membuang waktu, Mira menyentuhkan telapak tangannya lembut ke dada Rira tepat di atas jantungnya. Seketika sebuah lingkaran sihir besar berlapis-lapis muncul mengelilingi mereka, berputar perlahan bagaikan roda gigi raksasa di langit malam. Cahaya ungu dan perak memancar terang, menyebar dan menyusup ke udara di sekitar mereka seperti gugusan bintang yang mulai mencair.

Rira merasakan kehangatan lembut menjalar dari titik sentuhan itu, seperti tangan halus yang membelai tubuhnya perlahan, mengangkat dan mendorongnya menjauh secara halus dari dunia nyata yang dikenalnya.

"Jalankan tugasmu dengan sebaik mungkin. Buat dia benar-benar putus asa," bisik Mira dengan suara yang nyaris tenggelam di antara dentuman sihir yang memenuhi ruang itu, penuh perintah namun juga ada sedikit rasa kekhawatiran yang tersembunyi di balik nada suara.

Tubuh Rira mulai memudar pelan-pelan, berubah menjadi kabut tipis yang terhisap oleh angin kuat. Dalam sekejap ia lenyap dalam pusaran cahaya berkilau, meninggalkan jejak energi halus yang perlahan menghilang di udara.

***

Di dalam hutan yang sunyi, Lynx duduk bersandar pada sebuah pohon besar. Ia menatap ke arah langit sambil memikirkan segala liku perjalanan hidupnya yang belakangan ini dipenuhi masalah dan rintangan yang seakan tak pernah habis. Dia selalu berusaha menghindari konflik, namun sepertinya masalah justru terus berdatangan tanpa henti dan tak memberi kesempatan untuk beristirahat.

“Para perampok itu kemana ya? Aku terlalu sibuk memikirkan perubahan aneh di tubuhku sampai melupakan keberadaan mereka. Sepertinya mereka pernah melihat seseorang yang memiliki energi iblis seperti aku,” gumam Lynx dalam hati dengan nada penuh kekhawatiran dan penasaran.

Ia terdiam beberapa saat, membiarkan pikirannya melayang mencari jawaban atas teka-teki yang mengganjal. Tidak lama kemudian Lynx melompat ke atas cabang pohon yang besar dan kokoh. “Aku harus periksa kondisiku lebih dalam lagi. Ini terlalu berbahaya kalau sampai ada orang yang melihat energi iblis keluar dari tubuhku,” pikirnya dengan serius sebelum akhirnya duduk bersila dan mulai meditasi, mencoba menenangkan diri dan mencari keseimbangan dalam tubuhnya yang sedang kacau.

Saat Lynx memeriksa kondisi tubuhnya dengan saksama, matanya tertuju pada akar spiritual miliknya. Ada sesuatu yang aneh. Benda asing yang menyatu dengan akar spiritualnya, seharusnya tersegel rapat dan diam, kini berdetak pelan dan mengeluarkan cahaya berdenyut. Cahaya itu memancar dengan intensitas yang terus berubah seolah ada kehidupan di dalamnya. Lynx merasakan adanya aliran cairan dari seluruh tubuhnya bergerak tidak biasa, mengalir tarik menarik seolah benda itu berusaha keras menarik cairan menuju ke arahnya.

"Apa sebenarnya ini? Kenapa benda ini berdenyut dan bersinar?Bukankah aku sudah menyegelnya" Lynx bertanya dalam hati dengan nada bingung dan sedikit waspada. Dia memantau benda asing itu dengan intens, mencoba mengerti apa yang sedang terjadi di dalam dirinya, perasaan campur aduk memenuhi pikirannya.

Lynx menatap lebih tajam pada cairan yang tengah berusaha ditarik oleh benda asing itu dengan perasaan terkejut dan penuh kewaspadaan. “Cairan ini berbahaya. Bagaimana mungkin sesuatu yang seperti ini bisa ada dalam tubuhku?” pikirnya dengan nada kaget yang menggetarkan hatinya.

Dia terus mengamati dengan seksama, memperhatikan bagaimana setiap kali cairan itu mengalir melewati bagian tubuhnya, terasa perubahan aneh. Sel-sel tubuhnya yang biasanya kuat dan bertenaga, seolah melemah dan kehilangan kekuatan secara tiba-tiba. Namun, benda asing itu segera bereaksi dengan cepat memperbaiki bagian tubuh yang terganggu, dan berusaha menarik cairan tersebut kearahnya.

Cairan itu bergerak seolah-olah punya nyawa sendiri, seperti makhluk hidup yang terus berusaha menghindar dan lolos dari tarikan benda asing yang melekat di akar spiritualnya. Lynx mengerutkan alisnya, hatinya penuh dengan rasa heran dan ketegangan, menyadari bahwa ada kekuatan asing yang sedang berperang di dalam dirinya sendiri.

Lynx duduk termenung, mencoba memutar otak untuk mencari cara menghancurkan cairan berbahaya yang merasuki tubuhnya. Tiba-tiba sebuah ide muncul dengan jelas di benaknya. “Aku harus membuka segel kekuatanku supaya benda itu bisa menyerap cairan itu lebih dalam dan lebih kuat,” gumamnya dengan penuh tekad, suara hatinya bergema dalam keheningan.

Begitu ia melepaskan salah satu segel yang selama ini membatasi kekuatannya, dunia di sekelilingnya seolah bergetar hebat. Energi spiritual yang mengalir di seluruh penjuru terasa bergerak, tertarik dan terhisap oleh suatu kekuatan tak terlihat. Lynx menutup matanya, merasakan gelombang energi yang mengalir deras melalui tubuhnya, menggetarkan setiap sel yang ada.

Meski membuka segel itu berisiko, Lynx segera berusaha memperbaharui segel-segel lainnya dengan hati-hati agar tidak menghalangi benda asing yang diyakininya adalah batu meteor yang memberikannya kekuatan. Ia berharap dengan cara ini, benda itu dapat menyerap cairan berbahaya dengan lebih efektif, memperkuat dirinya sekaligus menyingkirkan ancaman dalam tubuhnya. Tekadnya membara, ia bersiap menghadapi konsekuensi dari keputusan besar ini.

Seperti yang ia perkirakan, tak lama setelah segel kekuatannya dibuka, benda asing itu langsung bereaksi dengan ganas. Sinar yang sebelumnya redup kini bersinar lebih terang, berdenyut seperti jantung yang dipacu adrenalin. Ia tampak bersemangat, menyerap cairan asing dari seluruh tubuh Lynx dengan kekuatan yang meningkat drastis.

Tubuh Lynx kembali dilanda sensasi terbakar hebat. Seluruh sistem dalam tubuhnya bergetar, seolah meledak dari dalam. Di balik rasa sakit itu, tubuhnya mulai meregenerasi, memperbaiki bagian-bagian yang rusak akibat pengaruh cairan jahat.

"Aaarrggghhh!" Teriaknya pecah di antara pepohonan, menggema di udara. Suara itu penuh penderitaan, penuh tekanan. Rasa sakit yang ia alami sekarang sama dengan saat pertama kali tubuhnya dibentuk oleh batu meteor, sakit yang membuatnya merasa mati berkali-kali waktu itu.

Beberapa menit berlalu dalam derita. Dengan tubuh yang gemetar hebat, Lynx perlahan mengubah posisi duduknya, hampir saja jatuh dari tempatnya yang tinggi. Dengan sisa kesadaran yang ada, ia kembali menyegel tubuhnya, menutup kekuatan yang sempat dibebaskan.

Begitu segel itu tertutup sempurna, tubuh Lynx akhirnya menyerah. Nafasnya terengah, matanya mulai mengabur, dan kesadarannya perlahan menghilang. Ia pingsan di tempat, terbaring tanpa daya di antara ranting dan angin dingin yang menerpa.

***

Cahaya samar mulai berkumpul di udara, tidak jauh dari pohon besar tempat Lynx tergeletak tak sadarkan diri. Titik-titik cahaya itu berputar, menari perlahan seperti serpihan bintang, lalu memadat membentuk sosok tubuh seorang wanita muda. Dalam sekejap, Rira muncul dari pusaran cahaya, matanya tajam dan penuh kewaspadaan.

Ia melangkah cepat, menelusuri area sekitar, pandangannya menyapu tanah, mencari jejak keberadaan Lynx. Namun tak satu pun tanda terlihat. Tidak ada bekas langkah, tidak ada aura spiritual yang kuat. Hanya keheningan hutan yang terasa semakin pekat.

“Ke mana dia pergi? Bukankah dia seharusnya berada di sekitar sini?” gumam Rira pelan, nada suaranya diliputi kebingungan dan sedikit frustrasi. Ia mengerutkan kening, lalu menutup mata sejenak, mencoba merasakan aliran energi di sekitar.

Tak menemukan apa-apa, Rira mulai bergerak perlahan, menelusuri jalur yang ia perkirakan sebagai arah perjalanan Lynx. Ia tidak sadar, bahwa tepat di atas kepalanya, di antara dedaunan pohon yang rimbun, tubuh Lynx tergeletak diam tak bergerak.

Sementara itu, jauh dari sana, Mira menatap bola kaca kristalnya yang memantulkan sosok Lynx yang tertidur di atas pohon. Ia menyipitkan mata, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang penuh perhitungan.

"Baguslah. Dia sudah kehabisan kekuatan fisiknya," pikir Mira sambil menyentuh permukaan bola kristal dengan ujung jarinya yang bersinar tipis. "Kini aku hanya perlu menghilangkan kekuatan lain yang dimilikinya. Jika rencanaku berjalan lancar, tidak lama lagi, aku akan mendapatkan tubuh dan kekuatannya."

Tatapannya berpindah ke arah meja batu di sisinya, di atasnya terhampar empat fragmen senjata iblis yang terlapisi bola sihir. Masing-masing memancarkan aura gelap yang kuat, seolah memiliki kehendak sendiri.

Tinggal satu lagi, batinnya dingin. Jika fragmen kelima berhasil kudapatkan, rencana utamaku mulai bisa dilakukan. Tidak ada seorang pun yang akan bisa menantangku.

